Hari ini dibawah langit Bantul, 15 Agustus 2013. Tepat saat jarum jam
menunjukkan pukul 10.00 WIB. Pagi ini suasana begitu sepi. Aku bergelut dengan
keheningan diantara keramaian dua sisi. Hari terakhir di Bantul sebelum
perantauan menjemputku dikala pagi. Perasaan dimana kewaspadaan berbanding
lurus dengan cemas dan ketakutan. Beribu pertanyaan selalu melintas di
kepalaku. Apa aku siap? Apa aku mampu melewati ini? Apa aku??? Selalu bertanya
tentang kesiapan diri.
“Putri dollar”, aku ingat betul bagaimana kakakku memanggil sebutan
diriku seperti itu. Itu dikarenakan aku membayar kuliah dengan biaya UKT 5.
Hampir menyamai biaya semesteran di KU salah satu universitas swasta di Jogja.
Kakakku sering bertanya mengapa aku memilih kuliah di luar kota sedangkan di
Jogja saja banyak universitas ternama. Jauh lebih murah pula. Entah mengapa aku
tak mencari dan berfikir nama universitas .Bukan universitas yang aku cari
disini. Jurusanlah yang aku cari. Teringat saat pengumuman SBMPTN kala itu.
Kala petang sebelum kumandang adzan maghrib terdengar. Kuberanikan diriku
melihat garis hidup dari Allah yang dituliskan padaku. Waktu terasa bersembunyi
di sudut kamar sempit itu. Serasa terdiam menanti sebuah harapan. Aku pejamkaan
mata sejenak sambil mulut ini tak
henti-hentinya berdoa meminta apapun hasil yang terbaik. Aku buka mata dan ku
tekan tombol enter. “Bismillahirrohmanirrohim”. Serasa aku susah bernafas dan
jantungku berhenti berdetak. Subhanallah, Allah menempatkanku di pilihan kedua. Awalnya,
kenyataan itu seperti cambuk yang terasa lebam di kulit. Sontak aku terdiam.
Apakah aku? Apakah aku? Dan selalu timbul pertanyaan tentang diriku sendiri.
Aku tidak diterima di pilihan pertama. Ternyata UNDIP jurusan Ilmu kesehatan
Masyarakatlah sebagai tempat yang menampungku. Sepertinya istilah menampung
terdengar begitu kasar. Mungkin, lebih
cocok sebagai tempat mengadu nasib dan menimba ilmu.
Inilah saat dimana diriku sendiri diuji untuk menjadi manusia yang ikhlas
dan bersyukur. Bersyukur atas karunia dan jalan yang Allah berikan. Meski
terasa sangat menyakitkan dan berat. Aku harus tabah menirimanya. Aku sendiri
harus meyakinkan diriku bahwa aku pun juga bisa berhasil dan sukses lewat jalan
ini.Good bye, Jogja. Biarlah tekad ini tumbuh diperantauan. Salam buat seluruh keluarga dan teman-teman. Kalian dan sayang sama kalian semua. Aku akan berusaha dan buktiin bahwa aku mampu dan sukses lewat jalan ini. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keselamatan dimanapun aku berada. Amin :D. Good luck n Barakallah :) Bismillahirrohmanirrohim. UNDIP i'm coming
Tidak ada komentar:
Posting Komentar