Beginilah hari2 aku disini, di kota nun jauh dr rumah. Sampai saat ini aku belum mendapatkan zona nyaman seperti di Jogja. Kalo bilang soal cuaca, bisa di bilang panas kering. Inilah masa2 terberat. Kaki mulai pecah-pecah, bibir jg pecah-pecah, kulit kering, gerah, dan masih banyak lg. Masa dimana begitu berat penyesuaian. Penyesuaian fisik dan mental. Paling berat adalah penyesuaian hati. :D. Inilah saat dimana aku di uji menjadi manusia yang berkali-kali lipat lebih kuat dan tegar dari biasanya. Disinilah aku sendirian, menanti teman yang satu persatu mulai berdatangan.
Yang begitu terasa rindu disini adalah orangtua itu pasti ya. Sama kakak dan adek2 aku. Kangen mereka semua. Kangen dimana kita semua ber-6 menghabiskan waktu terakhir di ruang tengah sebelum beranjak malam. Kangen sama keusilan, gurauan, Dan masih banyak lagi kejutan-kejutan yang lain. Itulah dimana saat terindah dari bayang-bayang masa yang kemarin. Kangen banget sayur2 bikinan ibu. Makanan masakan ibu.
Tapi ujian yang sebenarnya ya seperti ini. Antara menjadi manusia yang ikhlas dan tidak banyak mengeluh. Begitulah nanti pada akhir cerita ini.
Selasa, Agustus 20, 2013
Sabtu, Agustus 17, 2013
di mulai dengan Bismillah
Hari ini dibawah langit Bantul, 15 Agustus 2013. Tepat saat jarum jam
menunjukkan pukul 10.00 WIB. Pagi ini suasana begitu sepi. Aku bergelut dengan
keheningan diantara keramaian dua sisi. Hari terakhir di Bantul sebelum
perantauan menjemputku dikala pagi. Perasaan dimana kewaspadaan berbanding
lurus dengan cemas dan ketakutan. Beribu pertanyaan selalu melintas di
kepalaku. Apa aku siap? Apa aku mampu melewati ini? Apa aku??? Selalu bertanya
tentang kesiapan diri.
“Putri dollar”, aku ingat betul bagaimana kakakku memanggil sebutan
diriku seperti itu. Itu dikarenakan aku membayar kuliah dengan biaya UKT 5.
Hampir menyamai biaya semesteran di KU salah satu universitas swasta di Jogja.
Kakakku sering bertanya mengapa aku memilih kuliah di luar kota sedangkan di
Jogja saja banyak universitas ternama. Jauh lebih murah pula. Entah mengapa aku
tak mencari dan berfikir nama universitas .Bukan universitas yang aku cari
disini. Jurusanlah yang aku cari. Teringat saat pengumuman SBMPTN kala itu.
Kala petang sebelum kumandang adzan maghrib terdengar. Kuberanikan diriku
melihat garis hidup dari Allah yang dituliskan padaku. Waktu terasa bersembunyi
di sudut kamar sempit itu. Serasa terdiam menanti sebuah harapan. Aku pejamkaan
mata sejenak sambil mulut ini tak
henti-hentinya berdoa meminta apapun hasil yang terbaik. Aku buka mata dan ku
tekan tombol enter. “Bismillahirrohmanirrohim”. Serasa aku susah bernafas dan
jantungku berhenti berdetak. Subhanallah, Allah menempatkanku di pilihan kedua. Awalnya,
kenyataan itu seperti cambuk yang terasa lebam di kulit. Sontak aku terdiam.
Apakah aku? Apakah aku? Dan selalu timbul pertanyaan tentang diriku sendiri.
Aku tidak diterima di pilihan pertama. Ternyata UNDIP jurusan Ilmu kesehatan
Masyarakatlah sebagai tempat yang menampungku. Sepertinya istilah menampung
terdengar begitu kasar. Mungkin, lebih
cocok sebagai tempat mengadu nasib dan menimba ilmu.
Inilah saat dimana diriku sendiri diuji untuk menjadi manusia yang ikhlas
dan bersyukur. Bersyukur atas karunia dan jalan yang Allah berikan. Meski
terasa sangat menyakitkan dan berat. Aku harus tabah menirimanya. Aku sendiri
harus meyakinkan diriku bahwa aku pun juga bisa berhasil dan sukses lewat jalan
ini.Good bye, Jogja. Biarlah tekad ini tumbuh diperantauan. Salam buat seluruh keluarga dan teman-teman. Kalian dan sayang sama kalian semua. Aku akan berusaha dan buktiin bahwa aku mampu dan sukses lewat jalan ini. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keselamatan dimanapun aku berada. Amin :D. Good luck n Barakallah :) Bismillahirrohmanirrohim. UNDIP i'm coming
Kamis, Agustus 08, 2013
Numpang nge-SHARE
Bismillah .. Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin ...”
Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata 'jadi' maka 'jadilah'. (QS.Yasin:82)”
Ketika kita mengeluh : “Capeeeek banget ..!!”
Allah menjawab : “... dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat. (QS.An-Naba:9)”...
Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya ...”
Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS.Al-Baqarah:286)”
Ketika kita mengeluh : “Streeesss...Panik...”
Allah menjawab : “Hanya dengan mengingat-Ku hati akan menjadi tenang. (QS.Ar-Ro’d:28)”
Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh .. ini mah semuanya sia-sia ...”
Allah menjawab : “Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah
sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya. (QS.Al-Zalzalah:7)”
Ketika kita mengeluh : “ Duh ... sedih banget deh!!”
Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. (QS.At-Taubah:40)”
# Semoga Bermanfaat dan Penuh Kebarokahan Dari Allah ....
#di LIKE jika setuju, di SHARE jika bermanfaat
Idul Fitri 1434 H
Subhanallah, Allahuakbar...Allahuakbar... Allahuakbar
Inilah lebaran yang sangat menyentuh sebelum aku pergi merantau. Sebelum relung-relung ini berpacu dengan nasib. Saat ini, detik, menit, dan jam ini aku merasakan ada yang berbeda. Inilah lebaran dimana semua orang bertanya. "Nglanjutin dimana sekarang lut?". Terkadang aku berfikir haruskah aku menjawab pertanyaan itu. Haruskah setiap orang bertanya seperti itu. Ya, itulah kenyataan. Dan aku harus menerima kenyataan. Jawablah dengan lantang dan katakan. "Alhamdulillah, di Ilmu kesehatan masyarakat UNDIP". Huhhh, melegakan rasanya.
Tak perlu merasa malu dengan semua yang terjadi. Aku teringat apa yang aku tulis tahun2 lalu, 'Tak ada orang yang mati karena malu'. Apa yang harus kau sembunyikan? Apa malu dengan semua hasil dan jerih payahmu sendiri?. Meski orang lain mengharapkan diriku sendiri masuk ke KU, bicaralah dan katakan yang sebenarnya. Tak perlu menutupi kebenaran yang ada. Meski ada jeritan batin. Tetaplah tegar dan semangat. Allah lebih mengetahui apa yang kamu butuhkan, daripada apa yang kamu inginkan. Kamu adalah kamu. Jadilah diri sendiri. Inilah jalan yang terbaik untukmu. Tetap kuat Lutfy. Amin :)
Inilah lebaran yang sangat menyentuh sebelum aku pergi merantau. Sebelum relung-relung ini berpacu dengan nasib. Saat ini, detik, menit, dan jam ini aku merasakan ada yang berbeda. Inilah lebaran dimana semua orang bertanya. "Nglanjutin dimana sekarang lut?". Terkadang aku berfikir haruskah aku menjawab pertanyaan itu. Haruskah setiap orang bertanya seperti itu. Ya, itulah kenyataan. Dan aku harus menerima kenyataan. Jawablah dengan lantang dan katakan. "Alhamdulillah, di Ilmu kesehatan masyarakat UNDIP". Huhhh, melegakan rasanya.
Tak perlu merasa malu dengan semua yang terjadi. Aku teringat apa yang aku tulis tahun2 lalu, 'Tak ada orang yang mati karena malu'. Apa yang harus kau sembunyikan? Apa malu dengan semua hasil dan jerih payahmu sendiri?. Meski orang lain mengharapkan diriku sendiri masuk ke KU, bicaralah dan katakan yang sebenarnya. Tak perlu menutupi kebenaran yang ada. Meski ada jeritan batin. Tetaplah tegar dan semangat. Allah lebih mengetahui apa yang kamu butuhkan, daripada apa yang kamu inginkan. Kamu adalah kamu. Jadilah diri sendiri. Inilah jalan yang terbaik untukmu. Tetap kuat Lutfy. Amin :)
Rabu, Agustus 07, 2013
5 CM
"Bisa kok pasti.
Yakin bahwa pasti bisa.
Aku udah taruh puncak itu di depan mata. Tepat 5cm di depan mata.
Sekarang, yang aku perlukan adalah kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya. Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya. Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya. Leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih kuat dari baja. Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa. "
Dari itulah aku mulai berfikir tentang keseriusan dan niat. Tentang motivasi dan tujuan hidup. Kegigihan dan kerja keras akan mencapai hasil yg terbaik sesuai yang kita harapkan.
Menaruh impian kita tepat 5cm di depan mata kita, akan selalu mengingatkan kita. Ketika kita menatap ke manapun, akan terlihat apa tujuan hidup kita. Sehingga, kita mempunyai niat untuk meraihnya. Semangat :D. Salam sukses
Yakin bahwa pasti bisa.
Aku udah taruh puncak itu di depan mata. Tepat 5cm di depan mata.
Sekarang, yang aku perlukan adalah kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya. Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya. Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya. Leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih kuat dari baja. Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa. "
Dari itulah aku mulai berfikir tentang keseriusan dan niat. Tentang motivasi dan tujuan hidup. Kegigihan dan kerja keras akan mencapai hasil yg terbaik sesuai yang kita harapkan.
Menaruh impian kita tepat 5cm di depan mata kita, akan selalu mengingatkan kita. Ketika kita menatap ke manapun, akan terlihat apa tujuan hidup kita. Sehingga, kita mempunyai niat untuk meraihnya. Semangat :D. Salam sukses
Langganan:
Komentar (Atom)